Menghidupkan Kembali Praktik Mewiru Jarik dan Menguatkan Keterampilan Pranatacara Bahasa Jawa di SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Yogyakarta, 9 September 2026 – Pembelajaran Bahasa Jawa di SMK Muhammadiyah 1 Yogyakarta tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal dan mempraktikkan budaya Jawa. Pada pembelajaran kelas XI, hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan praktik mewiru jarik dan pembelajaran pranatacara. Kedua kegiatan ini memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk mengenal budaya Jawa sekaligus mengembangkan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah praktik mewiru jarik bersama peserta didik kelas XI Akuntansi dan XI DKV1. Kegiatan diawali dengan pengenalan busana Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta, termasuk motif batik serta beberapa ketentuan dalam berbusana. Setelah itu, peserta didik mencoba mempraktikkan cara mewiru jarik secara langsung dengan mengikuti tahapan yang telah dijelaskan.

Praktik mewiru menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali keterampilan yang sebelumnya belum rutin dilakukan setiap tahun di sekolah. Proses mewiru yang dilakukan secara manual membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup, sementara pembelajaran Bahasa Jawa hanya berlangsung satu jam pelajaran. Meskipun memiliki keterbatasan waktu, peserta didik tetap mendapatkan kesempatan untuk mencoba dan memahami proses pembuatan wiru. Keterampilan tersebut juga dapat digunakan ketika peserta didik mengenakan jarik dalam kegiatan sekolah, seperti Kamis Pon dengan busana kebaya atau surjan.

Selain mewiru, pembelajaran kelas XI juga diisi dengan materi pranatacara. Pada kegiatan yang dilaksanakan bersama peserta didik XI Akuntansi dan XI DKV1, peserta didik mempelajari sikap dalam pranatacara, wiraga, wirama, wirasa, dan wicara, jenis-jenis acara, serta cara menyampaikan pranatacara. Materi kemudian dilanjutkan dengan penyusunan teks dan praktik menyampaikan pranatacara di depan kelas. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik berlatih menggunakan Bahasa Jawa secara kontekstual sekaligus mengembangkan kemampuan berbicara dan keberanian tampil.

Rangkaian pembelajaran tersebut memadukan pengetahuan dengan pengalaman praktik. Mewiru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal keterampilan yang berkaitan dengan busana Jawa, sedangkan pranatacara mengembangkan keterampilan berbahasa dan berbicara dalam konteks budaya Jawa. Kegiatan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4, tentang Pendidikan Berkualitas karena peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman praktik. Pengenalan dan praktik mewiru serta pranatacara juga berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11, tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, terutama melalui pengenalan budaya lokal kepada generasi muda. Sekolah menjadi salah satu ruang bagi peserta didik untuk mengenal dan mempraktikkan budaya Jawa secara langsung. Melalui pembelajaran tersebut, Bahasa dan Budaya Jawa tidak hanya dipahami sebagai materi di kelas, tetapi juga dapat dialami melalui kegiatan yang dekat dengan praktik kehidupan sehari-hari