Penerapan Budaya Ngajeni dalam Kehidupan Sekolah di SMA Negeri 1 Sedayu

SEDAYU (12.08.2026) — Mahasiswa Praktik Kependidikan Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa UNY menerapkan budaya ngajeni dalam kehidupan sekolah melalui kegiatan Literasi Kampus yang rutin dilaksanakan setiap Rabu pagi. Kegiatan tersebut berlangsung di lapangan basket SMA Negeri 1 Sedayu dan diikuti oleh seluruh siswa kelas X, XI, dan XII dan didampingi oleh seluruh guru SMA Negeri 1 Sedayu. Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh tim Waka Kurikulum sebagai salah satu upaya untuk membangun lingkungan sekolah yang nyaman, santun, dan saling menghargai.

Kegiatan Literasi Kampus tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan wawasan siswa, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembentukan karakter. Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan budaya Ngajeni yang merupakan singkatan dari ‘Ngapurancang, Jempol, Nuwun Sewu, Ndherek Langkung, Nyuwun Pangapunten, dan Inggih’. Nilai-nilai tersebut dikenalkan sebagai bentuk tata krama yang dapat diterapkan siswa dalam berinteraksi dengan guru, teman, maupun warga sekolah lainnya. Dalam penerapannya, ‘ngapurancang’ merupakan sikap berdiri dengan posisi tangan di depan sebagai bentuk penghormatan ketika berbicara dengan orang lain. Sementara itu, jempol digunakan untuk menunjukkan arah atau tempat dengan cara yang lebih sopan. Ungkapan nuwun sewu dan ndherek langkung digunakan ketika meminta izin untuk melewati orang lain. Adapun nyuwun pangapunten digunakan untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan, sedangkan kata inggih digunakan sebagai bentuk jawaban yang lebih sopan.

Dalam Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ), ngajeni merupakan sikap saling menghormati dan menghargai yang diwujudkan melalui kebiasaan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik agar mampu berinteraksi secara santun dengan orang lain, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Penerapan ngajeni dalam kehidupan sekolah juga sejalan dengan landasan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2022 tentang Pedoman Pengembangan Pendidikan Karakter Khas Kejogjaan serta regulasi pendukung lainnya. Regulasi ini menjadi landasan hukum utama bagi penguatan karakter berbasis budaya lokal untuk mengatasi degradasi moral siswa. Melalui pembiasaan sikap ngajeni, nilai-nilai budaya dan tata krama khas Yogyakarta dapat terus dikenalkan, diterapkan, dan dilestarikan oleh generasi muda.

Selain memperkenalkan budaya ngajeni, kegiatan Literasi Kampus kali ini menghadirkan alumni SMA Negeri 1 Sedayu yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi untuk menjadi narasumber dengan berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada siswa agar lebih semangat belajar serta mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN).  Informasi yang disampaikan diantaranya adalah pengalaman tes, informasi jalur masuk di UNY dan pengenalan profil jurusan Pendidikan Bahasa Jawa. Literasi kampus ini harapannya memberikan dampak positif bagi para siswa maupun kehidupan warga sekolah. Siswa menjadi termotivasi untuk menggapai cita-cita mereka khususnya diterima di UNY kemudian lebih memahami pentingnya menjaga sikap dan tutur kata ketika berinteraksi dengan orang lain. Kebiasaan sederhana seperti meminta izin, menggunakan bahasa yang sopan, dan menghargai orang yang sedang berbicara dapat menciptakan hubungan yang lebih baik antara siswa, guru, dan warga sekolah lainnya.

Kegiatan tersebut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam pembentukan karakter dan penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung perkembangan sosial siswa. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk peserta didik agar memiliki sikap santun, mampu menghargai orang lain, dan menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Ke depannya, penerapan budaya ngajeni di SMA Negeri 1 Sedayu diharapkan dapat dilakukan secara konsisten dalam berbagai kegiatan dan interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Dengan pembiasaan yang berkelanjutan, nilai-nilai sopan santun dan saling menghargai diharapkan semakin melekat dalam karakter siswa serta turut mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas sesuai dengan tujuan SDGs 4.