Menguatkan Pendidikan Berbasis Budaya: Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di SMP Negeri 1 Ngaglik

Sleman, Yogyakarta — Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik yang berbudaya. Hal tersebut diwujudkan oleh SMP Negeri 1 Ngaglik melalui implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai bagian dari upaya menguatkan pendidikan berbasis budaya di lingkungan sekolah. Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan menjadi salah satu bentuk nyata dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Melalui pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, sikap, dan kepedulian terhadap budaya daerah. Pendidikan Khas Kejogjaan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengenal dan menerapkan nilai-nilai luhur budaya Yogyakarta dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap unggah-ungguh, tata krama, gotong royong, sopan santun, menghargai orang lain, serta mencintai lingkungan dan budaya lokal.

Di lingkungan SMP Negeri 1 Ngaglik, nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan dalam berbagai kegiatan pembelajaran maupun kegiatan sekolah. Pembelajaran Bahasa Jawa, pengenalan tradisi serta kesenian daerah, pembiasaan penggunaan bahasa yang sesuai dengan unggah-ungguh, serta kegiatan yang melibatkan budaya lokal menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik dan juga pembiasaan berbahasa Jawa melalui kegiatan 5S yang dilakukan setiap hari Kamis yaitu KAWERUH JAWA yang mempunyai kepanjangan Kamis wewarah bahasa Jawa yang dimana dihari itu seluruh warga sekolah harus menggunakan bahasa Jawa krama untuk berbicara dan juga tegur sapa terhadap guru ataupun teman. Serta disetiap hari Kamis Pon seluruh warga sekolah mematuhi peraturan Gubernur yang diwajibkan menggunakan pakaian lurik atau pakaian Jawa gagrak Ngayogyakarta.

Penerapan pendidikan berbasis budaya juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga dan dikembangkan. Dengan demikian, peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki kemampuan menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari masyarakat Yogyakarta. Selain memberikan manfaat bagi peserta didik, pendidikan berbasis budaya juga memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Nilai-nilai yang dipelajari di sekolah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan di SMP Negeri 1 Ngaglik menunjukkan bahwa pencapaian pendidikan berkualitas dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Pendidikan yang berakar pada budaya diharapkan mampu melahirkan generasi yang berpengetahuan, berkarakter, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menghargai identitas dan kearifan lokal. Melalui penguatan pendidikan berbasis budaya tersebut, SMP Negeri 1 Ngaglik turut mengambil bagian dalam mewujudkan SDGs Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas, sekaligus menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya Yogyakarta lebih tepatnya dibagian tata krama dan juga unggah-ungguh berbahasa bagi generasi mendatang.