Melestarikan Budaya Jawa Melalui Pendidikan Karakter di SMP Negeri 1 Seyegan

SMP Negeri 1 Seyegan, Sleman, Yogyakarta, melaksanakan program pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Jawa secara rutin pada tahun ajaran 2026/2027. Program ini dijalankan oleh guru dan seluruh warga sekolah dengan sasaran 661 peserta didik. Kegiatannya meliputi budaya 5S, salam pembuka dan penutup pembelajaran dalam bahasa Jawa krama, lagu dolanan Jawa, pemakaian busana adat Jawa setiap Kamis Pon, serta penamaan ruang kelas dengan nama tradisi Yogyakarta. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan).

Program ini bertujuan menanamkan karakter santun dan kecintaan terhadap budaya daerah melalui pembiasaan sehari-hari. Pada awal pembelajaran, guru menyapa dengan bahasa Jawa krama, “Sugeng enjing siswa setunggal Seyegan, kados pundi pawartos dinten menika?” Siswa menjawab serentak sambil menangkupkan kedua tangan, dan di akhir pelajaran mereka menyampaikan terima kasih serta permohonan maaf dalam bahasa Jawa. Budaya 5S, yakni Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun, diterapkan sejak siswa tiba di gerbang sekolah dan berjabat tangan dengan guru. Siswa juga dibiasakan mengangkat ibu jari sebagai isyarat sopan sebelum bertanya dan menyanyikan lagu Jawa seperti “Siji Loro Telu” dan “Wiwit Aku Isih Bayi”. Selain itu, siswa mengenakan busana adat Jawa setiap Kamis Pon dan pada peringatan Hari Jadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap ruang kelas diberi nama tradisi Yogyakarta, misalnya Labuhan Pantai Parangtritis untuk kelas 8E, serta Saparan Bekakak, Kenduri, dan Tuk Si Bedug untuk kelas lainnya. Guru menjadi pendamping, siswa menjadi pelaku utama, dan seluruh warga sekolah turut menjaga suasana budaya tersebut.

Pembiasaan-pembiasaan tersebut melatih siswa memahami dan mempraktikkan unggah-ungguh basa, tata krama berbahasa Jawa yang kini semakin jarang digunakan generasi muda. Suasana belajar menjadi hangat namun tetap disiplin, dan siswa terbiasa menunjukkan penghormatan kepada guru maupun sesama. Lagu-lagu Jawa serta busana adat turut memperkuat identitas kedaerahan dan mengenalkan budaya lisan Jawa yang jarang mereka temui di luar sekolah. Dengan demikian, sekolah berkontribusi pada SDG 4 melalui pendidikan bermutu yang membentuk karakter dan kemampuan berbahasa siswa, serta pada SDG 11 melalui upaya melestarikan warisan budaya Yogyakarta.Kegiatan ini diharapkan terus dilaksanakan secara konsisten dan dapat menjadi contoh bagi sekolah lain. Sebagai tindak lanjut, program dapat dikembangkan dengan melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar agar pembiasaan berbahasa dan berbudaya Jawa juga berlangsung di rumah dan lingkungan, sehingga pelestarian budaya berjalan berkelanjutan.