You are here
Praktik Membaca Geguritan di SMA Negeri 1 Prambanan: Menumbuhkan Keterampilan Berbahasa Dan Penghayatan Sastra Jawa
Primary tabs

Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan dalam lingkungan sekolah. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Salah satu kegiatan Praktik Kependidikan PK dilaksanakan oleh Alif Karunia Nur'Aini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta, di SMA Negeri 1 Prambanan. Dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Jawa, Alif melaksanakan pembelajaran materi membaca geguritan pada peserta didik kelas X.
Geguritan merupakan salah satu bentuk karya sastra Jawa yang memiliki keindahan melalui pilihan kata, pengimajinasian, serta penyampaian suasana dan perasaan. Oleh karena itu, pembelajaran geguritan tidak cukup hanya dilakukan dengan memahami isi teks. Peserta didik juga perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan geguritan secara lisan dengan pengucapan, intonasi, ekspresi, dan penghayatan yang sesuai.
Pembelajaran diawali dengan pemahaman mengenai unsur dan karakteristik geguritan. Peserta didik kemudian diarahkan untuk mencermati teks yang akan dibaca serta memahami makna yang terkandung di dalamnya. Tahap tersebut menjadi penting agar peserta didik tidak sekadar membaca setiap larik atau baris, tetapi mampu menyampaikan isi geguritan dengan penghayatan yang tepat.
Dalam praktik membaca geguritan, peserta didik dikenalkan dengan empat aspek utama, yaitu wicara, wiraga, wirama, dan wirasa. Wicara berkaitan dengan kejelasan pengucapan dan penggunaan suara. Wiraga berkaitan dengan gerak tubuh serta sikap ketika tampil. Wirama berhubungan dengan intonasi, tempo, dan jeda dalam pembacaan. Sementara itu, wirasa berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menghayati serta mengekspresikan makna dan suasana yang terdapat dalam geguritan.
Setelah memperoleh penjelasan dan contoh, peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih. Beberapa peserta didik kemudian tampil di depan kelas untuk membacakan geguritan. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung bagi peserta didik untuk menerapkan aspek-aspek yang telah dipelajari.
Pada awal kegiatan, sebagian peserta didik masih terlihat malu dan kurang percaya diri ketika harus tampil di hadapan teman-temannya. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pembelajaran membaca geguritan. Namun, dengan adanya kesempatan untuk berlatih dan tampil secara bertahap, peserta didik mulai lebih berani dalam mengekspresikan diri.
Selain melatih kemampuan membaca, kegiatan tersebut juga mendorong peserta didik untuk lebih memperhatikan cara berkomunikasi di depan orang lain. Penggunaan suara, ekspresi wajah, gerakan tubuh, serta penghayatan terhadap isi bacaan menjadi bagian yang diperhatikan selama praktik berlangsung.
“Nalika maos geguritan, siswa mboten namung maos teks kanthi lancar, ananging kedah saged nggambaraken isi geguritan lumantar swara, ekspresi, lan penghayatan”, ujar Alif.
Pembelajaran yang berbasis praktik tersebut memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar secara aktif. Peserta didik tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mengalami secara langsung proses memahami dan menyampaikan karya sastra. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih komunikatif sekaligus memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya.
Melalui pembelajaran membaca geguritan, keterampilan berbahasa Jawa peserta didik dapat dikembangkan, terutama dalam kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan secara lisan. Di sisi lain, peserta didik juga diajak untuk mengenali keindahan bahasa serta memahami pesan dan suasana yang terdapat dalam karya sastra Jawa.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran sastra Jawa yang menggabungkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Keberanian untuk tampil, kemampuan menghayati karya, serta penggunaan bahasa Jawa secara tepat merupakan pengalaman yang dapat diterapkan peserta didik dalam berbagai situasi komunikasi.
Pembelajaran membaca geguritan di SMA Negeri 1 Prambanan menunjukkan bahwa pembelajaran sastra dapat dikemas melalui kegiatan yang aktif dan kontekstual. Melalui proses memahami, berlatih, dan tampil di depan kelas, peserta didik diharapkan tidak hanya semakin terampil membaca geguritan, tetapi juga memiliki rasa bangga dan ketertarikan terhadap sastra serta bahasa Jawa sebagai bagian dari budaya yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.
Lampiran:
Contact Us
Jalan Colombo No. 1, Karangmalang, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 550843, (0274) 546719 ext. 519, Fax (0274) 548207
Website : http://fbs.uny.ac.id
Email : humas_fbs@uny.ac.id, pend_bahasa_jawa@uny.ac.id
Copyright © 2026,