You are here
Ketika Budaya Menjadi Kebiasaan: Menghidupkan Kejogjaan di SMK Negeri 1 Pleret
Primary tabs

Bantul — Pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Pleret menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa hadir dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Di sekolah ini, budaya tidak hanya diperkenalkan melalui pembelajaran Bahasa Jawa, tetapi juga hadir melalui kebiasaan, interaksi, serta lingkungan yang dekat dengan keseharian peserta didik. Salah satu bentuk pembiasaan tersebut terlihat dalam penggunaan bahasa Jawa krama dalam komunikasi antara siswa dan guru. Penggunaan bahasa krama menjadi bagian dari interaksi sehari-hari sehingga nilai unggah-ungguh tidak hanya dipelajari sebagai materi pembelajaran, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sekolah. Kebiasaan budaya juga terlihat dalam kegiatan presensi. Ketika namanya dipanggil, siswa memberikan respons dengan mengacungkan jempol sebagai tanda kehadiran. Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian dari pola interaksi yang telah terbentuk dalam kegiatan pembelajaran.
Nuansa budaya Jawa juga terasa melalui lingkungan dan suasana sekolah. Iringan gamelan menjadi salah satu bagian dari keseharian di sekolah. Menurut Rois, guru Bahasa Jawa SMK Negeri 1 Pleret, penggunaan bel bernuansa gamelan tersebut sudah diterapkan sejak lama. Pembiasaan tersebut menunjukkan bahwa unsur budaya lokal dapat dihadirkan melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan aktivitas peserta didik sehari-hari. Selain gamelan, gambar wayang dan tulisan aksara Jawa turut menghiasi berbagai ruang di lingkungan sekolah. Kehadiran unsur-unsur tersebut membuat budaya Jawa tidak hanya ditemui dalam materi pelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari ruang belajar peserta didik. Penerapan tata krama juga tampak melalui interaksi spontan antara siswa dan guru. Dalam beberapa kesempatan, siswa menyapa guru ketika berpapasan dengan ucapan, “Sugeng siyang, Bu.” Sapaan sederhana tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana nilai kesopanan dapat tumbuh melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Pengalaman selama pelaksanaan PK tersebut menunjukkan bahwa pendidikan budaya tidak selalu harus berlangsung melalui pembelajaran formal di dalam kelas. Lingkungan sekolah dapat menjadi ruang belajar yang memungkinkan peserta didik mengenal sekaligus mempraktikkan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan budaya di lingkungan sekolah juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga mencakup pembentukan karakter serta penciptaan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan peserta didik. Melalui penggunaan bahasa Jawa krama, pembiasaan tata krama, serta kehadiran wayang, aksara Jawa, dan gamelan, SMK Negeri 1 Pleret menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan. Budaya tidak hanya ditempatkan sebagai pengetahuan yang dipelajari, tetapi juga dihadirkan dalam kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika budaya tidak hanya diajarkan, tetapi juga dibiasakan, sekolah dapat menjadi ruang tempat nilai-nilai budaya tetap hidup dan dikenalkan kepada generasi muda.
Contact Us
Jalan Colombo No. 1, Karangmalang, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 550843, (0274) 546719 ext. 519, Fax (0274) 548207
Website : http://fbs.uny.ac.id
Email : humas_fbs@uny.ac.id, pend_bahasa_jawa@uny.ac.id
Copyright © 2026,