INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KHAS KE-JOGJAAN MELALUI PEMBIASAAN BUDAYA 5S DI SMA NEGERI 1 SRANDAKAN

Srandakan — Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan program penguatan karakter berbasis budaya lokal melalui pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) di SMA Negeri 1 Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan penyambutan siswa ini berlangsung secara rutin setiap pagi hari efektif sekolah, bertempat di area gerbang utama sekolah menjelang bel masuk berbunyi. Program ini menyasar seluruh peserta didik kelas X hingga XII dengan mengintegrasikan nilai-nilai luhur Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Inisiatif ini berkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan global, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education), yang menekankan pembentukan kecakapan moral, budi pekerti, serta apresiasi terhadap keragaman budaya.

Pembiasaan ini bertujuan mengikis rasa canggung generasi muda dalam menerapkan tata krama dan etika berbahasa Jawa di ranah publik sekolah. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK berkolaborasi bersama jajaran guru piket menyambut siswa yang baru tiba dengan sapaan ramah berbahasa Jawa krama, seperti ungkapan sugeng enjing dan mangga. Selain itu, mahasiswa turut memberi teladan konkret mengenai gestur subasita (sopan santun bersikap), seperti membungkukkan badan saat melintas di hadapan pendidik, menangkupkan kedua tangan di dada, serta menjabat tangan guru dengan takzim. Sinergi antara mahasiswa PK, guru pamong, dan tenaga kependidikan sekolah ini menjadikan pintu masuk sekolah sebagai ruang belajar praktis di luar jam pelajaran kelas.

Penerapan kegiatan ini memberikan dampak positif nyata bagi terciptanya iklim sekolah yang tertib, hangat, dan sarat nilai kekeluargaan. Para siswa yang awalnya merespons dengan pasif perlahan mulai terbiasa membalas sapaan menggunakan tata krama Jawa secara spontan. Kontribusinya terhadap SDGs 4, khususnya target 4.7, terlihat dari integrasi pendidikan karakter yang tidak hanya berhenti pada teori lembar kerja, melainkan menjelma menjadi aksi nyata penguatan kearifan lokal. Hal ini membekali peserta didik dengan kecerdasan emosional dan etika sosial yang seimbang dengan capaian kognitif mereka.

Penulis: Eka Putri Anggraeni